Judul Buku : Paradigma Pendidikan Islam; Analisis Historis,
Kebijakan, dan Keilmuan
Penulis : Prof. Dr. Faisal Ismail, M.A.
Penerbit : Remaja Rosdakarya, Bandung
Cetakan : I, Mei 2017
Tebal : 384 Halaman
ISBN : 978-602-446-051-8
Peresensi : Ahmad Fatoni, pengajar Bahasa Arab Universitas Muhammadiyah Malang
Buku ini menawarkan rekonstruksi pendidikan Islam dalam menghadapi tantangan
modernitas yang semakin kompleks. Diakui atau tidak, potret pendidikan Islam
yang diselenggarakan para perancang dan praktisi yang bergerak di dunia
pendidikan Islam, justru memperlihatkan kesenjangan yang cukup tajam antara
doktrin dan praktik, antara cita dan fakta.
Akibatnya, pendidikan Islam kerap dikesan sebagai aktivitas pembelajaran
yang hanya mengurusi masalah-masalah ritual. Sementara kajian di bidang
ekonomi, politik, sosial, budaya, manajemen, kesehatan, pertanian, kelautan dan
sebagainya kurang menjadi perhatian serius. Pemisahan ilmu dalam
penyelenggaraan pendidikan Islam semacam itu pada gilirannya akan menghambat
kemajuan peradaban umat Islam itu sendiri.
Selain adanya pemisahan ilmu agama dari kebutuhan riil masyarakat modern,
pendidikan Islam hingga kini seolah dalam posisi problematik. Di satu sisi,
umat Islam berada pada romantisme historis karena pernah memiliki para ilmuwan
besar yang memiliki kontribusi bagi peradaban dan ilmu pengetahuan dunia. Namun
di sisi lain, pendidikan Islam tidak berdaya saat berhadapan dengan realitas
masyarakat industri.
Kenyataan di atas kiranya dapat dikaitkan dengan pendidikan agama Islam yang
selama ini lebih menekankan pada hubungan formalitas antara hamba dan Tuhannya.
Pada waktu yang bersamaan, Islam diajarkan lebih pada tingkat hafalan, padahal
Islam penuh dengan nilai-nilai yang harus dipraktikkan.
Penulis buku ini mencoba melakukan penelusuran terhadap paradigmatik dan
rekonstruksi pendidikan Islam yang berkembang selama ini. Dilihat dari
tridomain pendidikan (domain kognitif, afektif, psikomotorik), sebagaimana
tertuang dalam pembukaan UUD'45, sesungguhnya lebih banyak didominasi oleh
domain afektif atau cenderung kepada pembentukan sikap. Dalam konteks
pendidikan Islam, kecerdasan dan keterampilan senyatanya berasaskan nilai-nilai
luhur seperti keimanan, akhlak yang mulia, dan amal salih.
Celakanya, fakta di lapangan kerap menyuguhkan perilaku peserta didik yang
memalukan. Sekedar contoh, peserta didik yang kelak diharapkan menjadi penentu
sejarah masa depan bangsa, akrab dengan pergaulan bebas, penyalahgunaan
narkoba, tawuran dan aneka perbuatan tak sedap lainnya. Kasus-kasus itu
mengindikasikan betapa rendah dan rapuhnya fondasi moral dan spiritual generasi
bangsa.
Nilai-nilai Islami yang semestinya memiliki posisi strategis dalam konsep
pendidikan nasional tampaknya tidak berperan secara riil dalam membentuk
kepribadian peserta didik. Problem itu diduga akibat dari beberapa faktor,
antara lain: buku pelajaran yang digunakan kurang mengarah pada integrasi
antara sains dan agama, implementasi strategi belajar-mengajar yang belum
relevan dengan tuntutan kurikulum, dan lingkungan belajar belum kondusif bagi
berlangsungnya suatu proses pembelajaran.
Itu sebabnya, Faisal Ismail mengusung wacana rekonstruksi paradigma
pendidikan Islam sebagai upaya mewujudkan pendidikan yang integratif dan
diharapkan melahirkan manusia-manusia unggul yang berpredikat ulul albab,
yakni sosok yang memiliki kekuatan dzikir, fikir, dan amal salih.
Buku
Paradigma Pendidikan Islam ini menganalisa secara kritis paradigma
pendidikan Islam baik pada wilayah konsep dan landasannya yang dilakukan oleh
para pemikir dan praktisi pendidikan Islam. Upaya penulis penting diapresiasi
mengingat wajah pendidikan Islam sampai hari ini belum sepenuhnya berhasil
untuk mencetak lulusan yang cerdas, baik secara akademis maupun moral dan
spiritual.
Ikhtiar penulis tentu membutuhkan proses panjang yang harus didukung dengan
kebijakan pemerintah demi menanamkan karakter anak didik. Sayangnya, hingga
kini pendidikan sering kali dipolitisasi sedemikian rupa untuk mengabdi pada
kepentingan penguasa. Aroma kebijakan mengenai ujian nasional, salah satu
contohnya.
Apa yang menjadi ikhtiar penulis buku ini sejatinya menjadi gambaran betapa
tingginya harapan publik terhadap kontribusi pendidikan Islam untuk menjawab
setiap tantangan dan semangat zaman. Pendidikan Islam yang diidealkan ke depan
adalah tidak saja tangguh dalam konsep dan landasannya, melainkan juga efektif
dalam operasional dan manajerialnya.
(Dimuat Harian Malang
Post, Minggu 1 Oktober 2017)