Sabtu, 31 Maret 2018

Jejak Sejarah Peradaban Ekonomi Islam




Judul Buku   : Peradaban Ekonomi Islam.
Penulis         : Dr. Yadi Janwari, M.A.
Penerbit       : Remaja Rosdakarya, Bandung
Cetakan        : I, November 2018
Tebal            : 278 halaman
Peresensi     : Ahmad Fatoni,
               Pengajar PBA-FAI Universitas Muhammadiyah Malang.
 

KENDATI peradaban ekonomi Islam merupakan rangkaian sejarah yang sangat panjang, namun sangat jarang ditemukan tulisan tentang sejarah ekonomi Islam. Hal ini terlihat buku-buku sejarah peradaban Islam justru lebih didominasi sejarah politik. Buku Peradaban Ekonomi Islam ini selain akan memaparkan sejarah pemikiran ekonomi Islam juga  akan menyingkap kontribusi ekonomi Islam masa klasik terhadap kebangkitan ekonomi modern.

Menurut Yadi Janwari, pemikiran para pemikir muslim senyatanya telah merespons tantangan-tantangan ekonomi dari masa ke masa. Pemikiran ekonomi Islam tersebut diilhami dan dipandu  oleh ajaran Al-Quran dan Sunnah juga oleh pemikiran dan pengalaman empiris mereka. Bahkan, sangat banyak ilmuwan muslim klasik yang memiliki pemikiran ekonomi yang amat maju melampaui ilmuwan-ilmuwan Barat.
Sejarah mencatat Ilmuwan muslim di era klasik telah banyak menulis dan mengkaji ekonomi Islam tidak saja secara normatif, tetapi juga secara empiris dan ilmiah dengan metodologi yang sistematis, seperti buku Ibnu Khaldun (1332-1406)  dan Ibnu Taymiyah, bahkan Al-Ghazali (w. 1111). Selain itu masih banyak ditemukan buku-buku yang khusus membahas bagian tertentu dari ekonomi Islam, seperti Kitab Al-Kharaj karangan Abu Yusuf (w. 182 H/798 M), Kitab Al-Kharaj karya Yahya bin Adam (w.203 H), Kitab Al-Kharaj buah pemikiran Ahmad bin Hanbal (w.221 M). (hal.15).
Buku-buku tersebut sarat dengan kajian ekonomi, seperti kebijakan moneter, fiskal (zakat dan pajak), division of labour, fungsi uang, mekanisme pasar, monopoli, perburuhan, pengaturan usaha individu dan perserikatan, lembaga keuangan (baitul mal), syairafah (semacam Bank Devisa Islam). Mereka juga ada yang membahas kajian ekonomi murni, seperti ekonomi sosial dan ekonomi politik.
Terutama pada masa Dinasti Abbasiyah, peradaban Islam sempat mengalami kemajuan yang luar biasa, yang kemudian dikenal dengan istilah The Golden Age. Namun sempat pula mengalami keterpurukan dalam jangka waktu yang berabad-abad lamanya. Ekonomi Islam sebagai mata rantai dari perjalanan sejarah, tentu saja mengalami fluktuasi sebagaimana sejarah peradaban Islam pada umumnya.
Pasca jatuhnya Dinasti Abbasiyah, pemikiran ekonomi Islam berada di bawah penetrasi kolonialisme Barat. Kejatuhan Dinasti Abbasiyah ke tangan bangsa Mongol pada tahun 1258 diakui sebagai fase kemunduran Islam. Dunia Islam tidak lagi memiliki kekuatan untuk memngaruhi gejolak perekonomian dunia. Selama 5 abad dunia Islam mengalami kemunduran, baik secara politik, ekonomi, dan aspek lainnya.  Masa kemunduran itu berkembang menjadi masa kehancuran pada abad ke-18 M.
Baru sejak pertengahan abad ke-20 M, di dunia Islam mulai tumbuh keinginan untuk bangkit dari keterburukan. Dalam tiga decade belakangan, kajian dan penelitian ekonomi Islam kembali berkembang. Berbagai forum internasional tentang ekonomi Islam telah sering dan banyak digelar di berbagai negara, seperti konferensi, seminar, simposium, dan workshop.  Puluhan para doktor dan profesor ekonomi Islam yang ahli dalam ekonomi konvensional dan syariah, tampil sebagai pembicara dalam forum-forum tersebut. (hal.233).
Dari kajian mereka ditemukan bahwa teori ekonomi Islam, sebenarnya bukan ilmu baru ataupun ilmu yang diturunkan secara mendasar dari teori ekonomi modern yang berkembang saat ini. Fakta historis menunjukkan bahwa para ilmuwan Islam zaman klasik, bahkan sejak zaman Rasulullah, adalah penemu dan peletak dasar semua bidang keilmuan, termasuk ilmu ekonomi.
Akan tetapi, apresiasi para sejarawan dan ahli ekonomi terhadap kemajuan kajian ekonomi Islam terkesan mengabaikan jasa-jasa ilmuwan muslim. Hal itu tampak pada buku-buku sejarah pemikiran ekonomi yang ditulis pakar ekonomi Barat maupun Indonesia. Celakanya lagi, banyak karya-karya ilmuwan Barat yang sengaja menyembunyikan peran ilmuwan Islam dalam mengembangkan  pemikiran ekonomi.
Buku semisal Perkembangan Pemikiran Ekonomi  (1995) tulisan Deliarnov, sama sekali tidak memasukkan  pemikiran para ekonom Muslim di abad pertengahan. Padahal sangat banyak ilmuwan muslim klasik yang memiliki kontribusi pemikiran ekonomi bagi perkembangan ekonomi modern. Demikian pula buku History of Economics Analysis (1954) karya Schumpeter, juga mengesampingkan jasa pemikiran ekonomi para pemikir ekonomi Islam.
Seiring perjalanan sejarah, jatuh bangunnya peradaban ekonomi Islam mengikuti peradaban umat Islam itu sendiri. Buku ini mencoba menelusuri jejak sejarah peradaban ekonomi Islam, khususnya pada masa keemasan Islam pada abad ke-8 s.d. ke-13 M dan masa kebangkitan Islam pada abab ke-20 M. Kajian Ketua Prodi Magister Ekonomi Syariah Pascasarjana UIN Bandung tentang peradaban ekonomi Islam ini sangat menarik untuk disimak oleh masyarakat akademik maupun masyarakat luas. (Resensi atas buku: "Peradaban Ekonomi Islam" di harian Malang Post, Minggu 1 April 2018). https://malang-post.com/ragam/budaya/jejak-sejarah-peradaban-ekonomi-islam

Menelusuri Belantara Kajian Islam di Nusantara

Judul Buku   : Islam dan Transformasi Islam Nusantara
Penulis          : Moeflich Hasbullah
Penerbit        : Kencana, Jakarta
Cetakan         : I, September 2017
Tebal              : xix + 289 halaman
ISBN               : 978-602-422-193-5
Peresensi      : Ahmad Fatoni
Pengajar PBA Universitas Muhammadiyah Malang
  
Islam Indonesia sungguh mengispirasi para ilmuwan sosial untuk mengurai simpul-simpul sejarah di dalamnya dan mengungkap kekayaan historis-religius-kulturalnya sehingga memproduksi apa yang disebut Ricklefs dan William Roff sebagai “knowledge industry.
Kenyataannya, riset-riset besar dan mendalam yang telah memengaruhi jagat ilmu pengetahuan sosial muncul dari bumi Nusantara. Ambil contoh, The Religion of Java-nya Clifford Geertz yang menjadi trade-mark dalam dunia antropologi dan Jaringan Ulama-nya Azyumardi Azra yang berpengaruh luas terhadap berbagai kajian tentang ulama Nusantara selanjutnya. Kedua karya magnum opus tersebut terus merangsang pertumbuhan diskursus Islam Indonesia hingga kini.
Selain dua karya itu, sebelum dan sesudahnya, panggung sejarah Indonesia telah mengenalkan nama-nama besar dengan aneka karya monumentalnya. Misalnya W. F. Wertheum, Schrieke, dan J. C. van Leur yang menulis Sejarah Sosiologis Indonesia, Graaf-Pigeaud yang menggarap Kerajaan-kerajaan Islam Nusantara, Deliar Noer yang meneliti Gerakan Modern Islam dan Partai Masyumi, Jajat Burhanudin yang mengkaji Sejarah Ulama dan Kekuasaan, dan Yudi Latif yang menghasilkan Geneologi Intelegensia Muslim. Ada juga buku sejarah Islam yang sangat populer yaitu Api Sejarah karya Ahmad Mansur Suryanegara.      
 Buku yang dipaparkan Moeflich Hasbullah ini juga didorong oleh kehadiran Islam di bumi Nusantara. Penulis berhasil mengungkap proses transformasi masyarakat yang dipicu adanya pengaruh agama sebagai driving force dalam perubahan sosial, politik, dan budaya masyarakat Indonesia, dari masa klasik hingga masa modern.
Melalui kekuatan transformatifnya, Islam memainkan perannya yang signifikan sebagai penentu pendulum sejarah Indonesia. Begitu sentralnya peranan Islam, muncul adagium, tidak valid sebuah studi sosial, politik, dan budaya di negeri ini tanpa melibatkan pengaruh Islam di dalamnya. Bahkan transformasi Islam tidak hanya diperankan oleh gerakan-gerakan dan organisasi, namun juga oleh kekuatan-kekuatan individu terutama sosok ulama atau para tokoh agama.
Hanya, kajian sejarah mengenai islamisasi Nusantara nyaris selalu menyuguhkan kerumitan-kerumitan tersendiri mengingat Islam lahir dari rahim Timur Tengah, terutama Arab Saudi melalui transformasi agama dan budaya yang begitu kompleks. Faktor kepentingan dan subjektivitas agama dan ideologi para sejarawan adalah aspek lain yang menambah benang kusut teoretis tentang awal kedatangan Islam ke Nusantara.
Pada masa Orde Baru, misalnya, polemik terkait perode masuknya Islam pernah menghangat antara “sejarawan akademik” dan “sejarawan istana”. Latar belakang ideologis kaum abangan dalam rezim Orde Baru yang terkesan memusuhi Islam, menunjukkan usaha-usaha reduksi peranan Islam dalam sejarah Indonesia. Sejarah versi penguasa pun digoreskan lewat tangan-tangan sejarawan istana. Sekadar contoh, demi memelihara imajinasi kebesaran Hindu di masa lalu, dipromosikan propaganda kuno bahwa Indonesia disatukan oleh Sumpah Palapa Gajah Mada.
Sementara Islam dan para ulama yang berperan sebagai ikon pemersatu gerakan nasional melalui gerakan-gerakan pemberontakan selama kekuasaan kolonial, seperti diakui oleh sejarawan asing, diabaikan. Padahal organisai Sarekat Islam, contohnya, selain bersifat masif dan berskala nasional dengan jumlah anggotanya mencapai jutaan di seluruh Indonesia, pada kongres pertamanya di Bandung tanggal 17-24 Juni 1916 sudah memasyarakatkan istilah “nasional” dan memelopori tuntutan Indonesia merdeka.  
Selama ini orang lebih mengenal tanggal pengukuhan berdirinya Budi Utomo 20 Mei 1908 sebagai Hari Kebangkitan Nasional. Padahal hingga kongresnya tahun 1931 di Solo, organisasi yang membatasi keanggotaannya pada kalangan aristokrat Jawa itu menolak cita-cita persatuan Indonesia dan tetap memertahankan Jawanisme hingga kemudian membubarkan dirinya karena tidak sesuai dengan semangat zaman.
Tak pelak, perseteruan antara “sejarawan akademik” dan “sejarawan istana” pun menyeruak menyangkut masuknya Islam ke Indonesia dan juga berbagai topik sejarah lain. Itu sebabnya, sebagian kalangan menyerukan “pelurusan sejarah” yang selama ini sering kali bias dan sengaja dibengkokkan.
Bagaimanapun, proses islamisasi Nusantara tetapsaja menyimpan misteri sekaligus merupakan kajian yang menantang. Keunggulan bukuini setidaknya memberi jalan bagi pembaca untuk mengoreksi atau memerkuat sebuahteori. Selain menantang, penelusuran sejarah islamisasi Nusantara demikian rumitkarena wilayah Nusantara yang sangat luas serta bukti-bukti historis yangkurang memadai. (Resensi atas buku "Islam dan Transformasi Masyarakat Nusantara" di Harian Malang Post, edisi Sabtu 24 Maret 2018). https://www.malang-post.com/ragam/budaya/menelusuri-belantara-kajian-islam-di-nusantara

Jumat, 01 Desember 2017

Islam Bukan Agama Kekerasan

 
Judul Buku    : Transformasi Politik Islam: Radikalisme, Khliafatisme, dan Demokrasi
Penulis          : Prof. Dr. Azyumardi Azra, CBE.
Penerbit        : Kencana, Jakarta
Cetakan        : Pertama, 2016
Tebal            : 319 halaman
ISBN            : 978-602-0895-87-1
Peresensi      : Ahmad Fatoni Pengajar PBA Universitas Muhammadiyah Malang
Di publikasikan oleh : Malang Post http://www.malangpost.net/ragam/resensi/islam-bukan-agama-kekerasan

Berbicara mengenai agama bagaikan berbicara tentang suatu paradoks. Di satu pihak, agama dialami sebagai jalan dan penjamin keselamatan, cinta, dan perdamaian. Di lain pihak, sejarah membuktikan, agama justru menjadi sumber penyebab dan alasan bagi kehancuran umat manusia. Karena agama, orang  bisa saling mencinta. Tetapi atas nama agama pula, orang bisa saling membunuh dan menghancurkan.
Lumayan bila paradoks tersebut masih bisa berjalan dengan seimbang. Namun rasanya keseimbangan itu kini makin sulit terjadi. Sejak serangan terhadap World Trade Center, 11 September 2001, seakan datang sebagai pesan bahwa agama bakal membawa permusuhan dan kekerasan atas nama agama.
Kekhawatiran itulah yang menjadi konteks Profesor Azyumardi Azra dalam menulis buku Transformasi Politik Islam ini. Titik tolak buku ini berangkat dari dua hal; pertama, meningkatnya kekerasan dan terorisme yang dilakukan kelompok ekstrem-radikal atas nama Islam. Kedua, munculnya gelombang demokrasi di Indonesia sejak 1998 dan di beberapa Negara Arab mulai akhir 2010 hingga kini. Penulis menunjukkan betapa agama dalam pengalaman pemeluknya memiliki potensi sebagai alat perusak bagi kehidupan.
Sudah seharusnya, kaum beragama, mengambil butir-butir mutiara pelajaran dari peristiwa-peritiwa peperangan yang beradarah-darah pada masa lalu dengan harapan tragedi yang menelan banyak korban itu tidak terulang kembali. Berbagai pihak hendaknya lebih arif dan lebih bisa bekerjasama dalam membangun kehidupan bersama dalam rangka merajut persaudaraan hakiki dan perdamaian dunia sejati.
Dalam buku hasil akumulasi pembacaan sebagai Guru Besar Sejarah UIN Jakarta, Aztumardi Azra mengungkap secara konseptual kekerasan bernuansa agama dengan pendekatan sosiologis-historis serta bagaimana mengikis konteks yang menjadi pemicu lahirnya tindak kekerasan atas nama agama. 
Sebab selama ini, agama selalu diasosiasikan sebagai ajaran penuh kasih kayang, kedamaian dan keselamatan. Wajah sejuk agama dinilai sangat tidak mungkin berkelindan dengan praktik kekerasan. Kenyataannya, aneka wajah kekerasan atas nama agama kerap diterjemahkan sebagai legal doctrine yang wajib diamalkan.
Kekerasan atas nama agama lalu tidak saja mengambil bentuk secara fisik, tapi adakalanya melibatkan tekanan non fisik yang mengandung muatan politis, sosiologis, dan antropologis. Persoalannya, mengapa agama akhir-akhir ini kian identik dengan konflik dan kekerasan?
Buku ini mengisyaratkan, relasi norma agama dalam motif kekerasan mempunyai dua wajah yang saling berseberangan. Satu wajah memandang dogma agama sebagai subjek kekerasan. Sedang wajah yang lain melihat agama sebagai korban kekerasan. Pada posisi pertama, agama ditengarai menjadi faktor penyebab kekerasan. Faktor ini biasanya muncul dari institusi, doktrin, misi maupun kepemimpinan agama. Sementara posisi yang menempatkan agama sebagai korban kekerasan adalah penyalahgunaan agama oleh pelaku kekerasan.
Tak pelak, wajah agama tidak seramah nilai normatifnya yang mengampanyekan persaudaraan, kebersamaan sekaligus menebar misi rahmatan lil ‘alamin. Kita lihat, misalnya, wajah agama di Indonesia yang senyatanya menguar kesejukan dan kedamaian, tidak jarang masih terlihat bopeng dengan berkembangnya radikalisme dan terorisme, baik berwujud gerakan fundamentalisme keagamaan-sektarian maupun fundamentalisme globalisasi-ekstrem.
Padahal spektrum terluas dari dampak tindakan radikal bernuansa agama, berpotensi mengoyak agregasi sosial yang sudah mapan. Sebab, agresivitas massa berpeluang menyeret berbagai elemen masyarakat untuk membajak tafsir agama sebagai senjata tindak kekerasan.
Maka, kekerasan yang beraroma agama sebenarnya bukan kesalahan ajaran agama itu sendiri, tapi lebih disebabkan human error, yakni sikap sebagian pemeluknya yang terkadang menafsirkan ajaran teologis-normatif secara serampangan. Bisa juga karena kepentingan—politik atau ekonomi—yang terlalu berlebihan sehingga mengalahkan kepentingan agama.
Melalui kajian akademis dengan ragam rumusan teoretis dan panduan praktis, Profesor Azyumardi Azra tidak hanya fasih menjelaskan tema radikalisme atau ekstremisme dan demokrasi serta kaitannya dengan Islam, tetapi juga tema lain yang menjadi misi intelektual yang telah lama digelutinya secara instens.
Buku ini sangat layak dijadikan bahan kajian dan renungan tentang masa depan politik Islam oleh para mahasiswa FISIP, akademisi, peneliti, tokoh agama, birokrat, dan pejabat pemerintah pengambil kebijakan demi terpeliharanya sikap saling pengertian, toleransi, harmoni, dan kerukunan antarumat beragama dalam bingkai kebangsaan, keindonesiaan, dan kemanusiaan.

Merancang Bisnis ala Tatktik Perang Rasulullah


Judul Buku         : Ilham Juara Berbisnis dari Strategi Perang Nabi
Penulis              : Abdurrahman Sandriyanie Wahid
Penerbit             : DIVA Press, Yogyakarta
Cetakan             : I, Agustus 2013
Tebal                 : 214 halaman
Harga                 : Rp 32,000/-
Di publikasi oleh : https://www.hidayatullah.com/read/2013/10/21/6912/merancang-bisnis-ala-tatktik-perang-rasulullah.html

MENELAAH sepak terjang Rasulullah صلى الله عليه و سلم bagaikan mengarungi lautan yang tak bertepi. Keluasan suri teladan beliau mencakup semua aspek hidup dan kehidupan. Hal ini menunjukkan bahwa Rasulullah memiliki kecerdasan manajerial yang tinggi dalam mengelola, mengatur, dan menempatkan anggota masyarakatnya dalam berbagai posisi sesuai kemampuannya, sehingga dapat mencapai tujuan utama, yaitu membangun masyarakat madani yang berlandaskan nilai-nilai Ilahi.
Dalam buku Ilham Juara Berbisnis dari Strategi Perang Nabi ini, setidaknya ada dua hal yang menjadi perhatian utama penulisnya, yaitu taktik berperang dan strategi berbisnis ala Rasulullah.
Dalam dunia militer, beliau adalah pemimpin perang yang andal dengan strategi dan taktik yang ampuh. Dalam dunia bisnis, beliau adalah pebisnis ulung yang sukses from zero to hero.
Kemenangan demi kemenangan yang diraih oleh pasukan muslim membutikan betapa dahsyatnya taktik perang yang dirancang Rasulullah. Dan, ternyata, taktik beliau tersebut sangat aplikatif untuk diterapkan dalam bidang yang lain, bisnis misalnya. Hal ini telah banyak dibuktikan oleh para pengusaha muslim yang sukses dalam dunia bisnis (hal.62).
Buku ini, misalnya, mencontohkan skema peperangan Badar. Ketika terjadi perang Badar, Rasulullah صلى الله عليه و سلم terlebih dahulu menerapkan perang individu sebagai langkah penyerangan. Adu fisik dan kemampuan mengayunkan pedang yang ditunjukkan Umar bin Khattab dan kedua sahabat lainnya sebelum perang Badar benar-benar berkecamuk. Kemenangan Umar dan sahabat yang lain membuat musuh ketakutan. Semangat musuh menciut melihat ketiga pasukan muslim berhasil menumbangkan lawan tandingnya dalam adu pedang.
Dalam dunia bisnis, serangan model perang Badar yang dikenal dengan istilah frontal attack tersebut lebih condong untuk mematikan gerak lawan bisnis dengan menandingi produknya dalam persaingan pasar. Di sini cara-cara strategis untuk menggempur lawan bisnis harus diprioritaskan. Peningkatan kualtias produk, segmentasi dengan cara menurunkan harga di pasar dan pelayanan yang super eksekutif adalah dari sekian banyak cara kewirausahaan yang bisa dilakukan (hal.71-73).
Penulsi buku ini juga mendedah strategi perang Khandaq Rasulullah صلى الله عليه و سلم yang menggunakan tipu daya parit. Syahdan, tentara musuh bergerak dengan penuh keyakinan dapat menaklukkan kota Madinah sebagai markaz Rasulullah dan para sahabatnya. Namun, di luar dugaan, mereka terkejut ketika sampai di perbatasan melihat sebuah parit membentang lebar yang menghalangi upaya mereka untuk menusuk ke jantung pertahanan kaum muslim. Di sisi lain, brikade pasukan muslim terlihat berjaga-jaga dan dalam posisi siap tembak. Walhasil, tentara lawan hanya bisa mengelilingi parit itu sambil menggerutu (hal. 195-199).
Strategi perang parit adalah suatu keniscayaan bila perusahaan bisnis menerapkannya dalam setiap medan laga menghadapi persaingan kompetitor di tingkat lokal, nasional, maupun internasional. Sebagaimana fungsi perang parit untuk menahan gempuran musuh bahkan mencegah masuk ke wilayah kaum muslim, maka lawan-lawan bisnis dipaksa tidak bisa berbuat apa-apa terhadap usaha bisnis yang kita bangun, sementara kita bebas melakukan apa saja.
Selain uraian starategi perang Badar dan perang Khandaq, dalam buku ini juga dipaparkan aneka strategi perang Rasulullah lainnya sesuai tuntutan situasi dan kondisi masa itu. Ketika Anda mampu mengaplikasikan langkah-langkah pemenangan perang beliau ke dalam dunia bisnis, tentu Anda akan mengalami kesuksesan yang tidak saja membahagiakan Anda secara pribadi, juga membahagiakan banyak orang di sekitar Anda. Bagaimanapun, Anda tidak dibenarkan tamak mencari keuntungan pribadi dengan menghilangkan kebahagiaan orang lain.
Berbagai strategi kemenangan perang Rasulullah صلى الله عليه و سلم, dalam buku ini, dapat mengilhami dunia bisnis demi meraih hasil yang maksimal. Terlebih bagi Anda yang menginginkan keuntungan penuh barakah dalam berbisnis, buku ini layak dijadikan panduan. 
Ahmad Fatoni

Memburu Kesetiaan Cinta dari Langit



Judul                           : Sajak Langit 
Penulis                        : I’ana Penoreh Tinta 
Penerbit                       : CV. Dream Litera Buana, Malang 
Cetakan                       : I, 2016 
Tebal                           : 342 halaman 
ISBN                           : 978-602-1068-52-0 
Peresensi                   : Ahmad Fatoni, Penggiat Pusat Studi Islam dan Filsafat UMM
Di publikasikan oleh : Malang Post https://malangpost.net/ragam/resensi/memburu-kesetiaan-cinta-dari-langit

CINTA, adalah kata-kata yang akrab muncul dalam puisi, syair lagu, novel, cerpen, tayangan sinetron, dan juga dalam khutbah kehidupan. All you needed loves, kata John Lennon bersama Beatles-nya. Cinta adalah segala-galanya.
Akan tetapi, irama kehidupan sering kali terdengar paradoks, bahkan terasa saling mengejek dan saling mengecoh. Seiring mimpi-mimpi yang begitu fantastik dan memukau, alam nyata berulang kali menyodorkan kepahitan, termasuk dalam ruang percintaan.
Betapa menyedihkan jika cinta berbuah petaka. Buntungnya, yang tertinggal kemudian berubah menjadi sinisme, kebencian, dan keputusasaan: Jauh denganmu membuatku pinus/ Kamu tak perlu mencangkuliku/ Karena aku sudah seperti tanaman kering tiada berair/ Tatapku sudah terisolasi (Bintang, hal.12).
Padahal, alangkah indahnya dunia pacaran, selalu asyik masa-masa pendekatan. Bunga-bunga tampil warna-warni, janji-janji berkilatan. Sesaat cinta didapat, segalanya menunjukkan perhelatan kekuasaan. Mulai ketahuan belangnya, semua-mua semu belaka, penuh siasat demi mengisap madu cinta. Tidak ada ketulusan di sana, persis seperti para politikus busuk berebut kursi dengan cara-cara manipulatif.
Andai masih ada cinta murni nan tulus, tentu segalanya berjalan lurus. Namun akhirnya dimengerti, di sana-sini berlumpur noda kepalsuan, ada noktah kepura-puraan, hasrat bertendens, dan nafsu berselimut modus. Ketika tujuan-tujuan terselubung tercapai, terurai pula topeng aslinya: Hujan/ Di tengah rintikmu, terdapat kebutaan akan air mata/ Di tengah derasmu, tersisa ketulian akan teriakan/ Di tengah sejukmu, ada pilu yang mendalam (Hujan, hal.16).
Sajak-sajak cinta yang ditulis I’ana Penoreh Tinta (IPT) dalam Sajak Langit ini bukanlah puisi gelap, yang sulit dipahami. Bacalah perlahan, dan nikmati hikmahnya. Tentu, cinta dalam buku kumpulan sajak ini sangat beragam maknanya. Ia bisa cinta antara pemuda dan perempuan belia. Ia bisa cinta antara anak dan orangtuanya, atau sebaliknya. Ia juga bisa cinta antara hamba dan Tuhannya. Cinta pada tanah air, cinta pada diri sendiri, atau cinta pada kesetiaan dan kejujuran. 
Sajak yang penuh deklarasi ini sangat boleh jadi ditulis oleh subjek pelaku yang ingin diakui dan dimengerti sebagai petualang yang tangguh, bukan pendamba cinta yang mudah patah arang dalam kecewa: Malam pelukis langit yang menderu akan derap langkah penuh harap/ Pada-Mu Sang Pengasih kusandarkan diri dengan tegap…(Cahaya Langit, hal.23).
Seorang penyair senyatanya memang mengajak pembaca, selain demi menikmati pesona kata-kata, juga untuk melongok hingga ke ceruk terdalam kehidupan, dan dari sana pembaca dapat belajar ihwal kehidupan itu sendiri. Sajak tak sepantasnya bila hanya sekedar nyanyian yang lahir dari kepedihan jiwa atau senyuman bibir belaka, demikian kata Kahlil Gibran.
Itu sebabnya, melalui untaian sajak yang puitik, getir seorang penyair bukan lagi menjadi kegundahan personal. Pembaca turut pula merasakan denyut batin sang penyair ketika harus melihat sekaratnya nilai-nilai ketulusan akibat perilaku culas para petualang asmara, penjahat kelamin dan sebangsanya. Lewat rakitan kata per kata, seorang penyair dapat pula mengaduk-aduk emosi perlawanan atas segala wujud penistaan atas nama cinta.
Dalam buku setebal 216 halaman ini, IPT yang juga dikenal sebagai motivator, menyertakan hanya sepersepuluhnya (hal.1-25) untuk karya sajak. Selebihnya buku ini berisi untaian kata mutiara, intisari kebijakan, isyarat-isyarat kemuliaan, yang bisa menjadi inspirasi, bahkan sumber motivasi yang menguatkan seseorang dalam menghadapi pernak-pernik keganjilan hidup. Kemampuan IPT dalam menelanjangi paradoks, lalu mengubahnya menjadi energi untuk tetap tabah walau dalam diam yang menyakitkan.
IPT senyatanya bukan nama tersohor dalam dunia persajakan Indonesia. Karyanya gampang dicerna baik kosa kata, gaya bahasa, atau idiom, juga teknik penyampaiannya terang benderang. Ia masuk dalam golongan bright poet society. Buku sajak jenis ini sangat cocok untuk masyarakat awam yang lebih terdidik oleh sastra televisi atau sastra Koran.
Namun yang terpenting, IPT telah mengajak pembaca bagaimana menyikapi dan menghadapi dua hal yang bertolak belakang. Itulah dinamika hidup yang selalu menuntut adanya proses menuju yang sejati. Kita dapat menimba banyak hikmah dari coretan hati penyairnya yang hingga penerbitan buku ini masih memburu tambatan cinta sejatinya sebagai sang belahan jiwa.

Selasa, 14 November 2017

Peran Ideal Seorang Ayah

Judul               : Bukan Sekadar Ayah Biasa
Penulis            : Misbahul Huda
Penerbit          : Filla Press, Sidoarjo
Edisi                : Juli 2017
Tebal               : 257 halaman
ISBN                   : 978-602-19985-6-4
Peresensi           : Ahmad Fatoni, Pengajar PBA-FAI Universitas Muhammadiyah Malang

ALKISAH, suatu hari Khalifah Umar bin Khattab didatangi seorang ayah beserta anaknya. Sang ayah bercerita kepada Umar betapa dia sudah tak sanggup lagi mendidik anaknya. Si anak diadukan ke Umar karena perangai buruknya yang melampaui batas. Lalu Umar menanyakan si Anak, “benarkah apa yang dikatakan ayahmu wahai pemuda? Dan jika itu benar kenapa kau melakukannya?”.
Ternyata si anak tadi sudah lama memendam pertanyaan ke Umar, “wahai baginda, sebelum aku menjawab pertanyaanmu, aku ingin bertanya, “adakah kewajiban orangtua terhadap anaknya.” Sambil melihat si Anak, Umar menjawab, “ada tiga wahai pemuda: memilihkan ibu yang salihah, memberikan nama yang baik, dan mengajarkan Al-Quran”.
Anak itu lalu terus terang,ketahuilah wahai baginda, ayahku tidak memilihkan ibu yang baik bagiku, ayahku juga memberiku nama yang kurang baik (diriwayatkan nama anak tersebut Kelelawar Jantan dalam bahasa Arab), juga tidak pernah mengajariku satu ayat pun dari Al-Quran”
Mendengar penuturan si anak, Umar langsung memarahi sang ayah,ketahuliah wahai orangtua, engkau telah berbuat zalim terhadap anakmu jauh sebelum dia berbuat nakal terhadapmu”.
Pesan moral kisah di atas menegaskan, jangan terlalu mengimpikan seorang anak yang salih sebelum orangtuanya salih terlebih dahulu. Demikian pula pesan penulis lewat buku ini. Misbahul Huda menyayangkan keteladanan sosok ayah yang belakangan semakin langka. Jika sekarang banyak keluarga modern yang risau karena anak-anaknya durhaka, maka tidak perlu mencari sebab. Sangat boleh jadi penyebab utamanya adalah ayah yang durhaka, yaitu pria yang tidak memedulikan anaknya atau suami yang kurang cerdas memilih istri.
Celakanya, tidak sedikit keluarga yang anaknya terbiasa “ber-ayah ada, ber-ayah tiada”. Mereka bertemu ayahnya sebentar di pagi hari atau bahkan tidak bertemu sama sekali, dan baru bertemu kembali di malam hari. Hasil penelitian Benry Biller di Amerika menunjukkan waktu efektif antara anak dan ayahnya hanya 19 menit. Lantas, apa yang bisa diharapkan dari nineteen minutes father?
Kasus di Indonesia gejalanya nyaris sama. Sebagaimana pernyataan psikolog Ely Risman tentang anak-anak sekarang yang nakalnya sungguh kelewatan. Kesimpulannya cukup mengejutkan. Menurut Ely, Indonesia is the fatherness country. Artinya, Indonesia bukanlah negara janda, namun banyak ayah hadir di hadapan anak-anaknya secara fisik tanpa melibatkan diri secara emosional dan spiritual yang memadai (hal.39).
Parahnya lagi, banyak kaum ayah cenderung memanfaatkan pembenaran bahwa tugasnya adalah mencari nafkah di luar rumah. Sementara mengasuh dan mendidik anak adalah tugas domestik seorang ibu, merangkap sebagai manajer rumah tangga. Bila ada anak bermasalah, ayah sering menumpahkan kesalahan kepada seorang ibu.   
Senyatanya proses pendidikan anak dalam keluarga porsinya harus lebih banyak dilakukan seorang ayah. Bukan berarti peran ibu tidaklah penting. Terlebih, intensitas pengasuhan ibu kepada anak selama ini tampak lebih dominan ketimbang ayah. Akan tetapi, peran sentral terhadap pendidikan anak tetap di tangan seorang ayah, bukan ibu atau guru, apalagi pembantu.
Kendati begitu, seorang ayah sebetulnya tidak dituntut harus serba sempurna, melainkan sekadar teman dialog yang bersedia untuk tumbuh dan belajar bersama anak-anaknya. Mengutip perkataan George Herbert, ayah yang sukses bukanlah seorang pria yang kaya atau hebat dalam segala bidang, atau yang paling cemerlang karirnya di perusahaan. Ayah yang sukses adalah ayah yang anak lelakinya berkata, “aku ingin seperti ayah”. Atau, anak perempuannya berkata, “aku ingin suami seperti ayah.” (hal.40).
Seorang ayah, bagaimanapun, tetap manusia biasa dengan segala keterbatasan. Justru kesempurnaan itu hadir saat seorang ayah mampu mendidik dan membesarkan anak-anaknya meraih sukses di tengah keterbatasannya. Penulis buku ini paling tidak telah membuktikan sendiri melalui kisah-kisah real case sekaligus menawarkan ragam solusi.
Menyimak dari lembar pertama hingga akhir buku ini, betapa Misbahul Huda sukses menjalankan misi sebagai ayah yang hebat bagi enam anak-anaknya. Perpaduan antara kesederhanaan, kejujuran, kedisiplinan, dan keteladanan menyatu dalam sikap mantan direktur utama beberapa perusahaan milik grup Jawa Pos itu.
Tak berlebihan kiranya bila buku ini perlu dibaca oleh siapa pun yang ingin membangun peran sebagai ayah ideal bagi putra-putrinya. Dengan bahasa yang mengalir, karya ini sarat inspirasi untuk memandu kaum lelaki yang telanjur jadi ayah namun ‘tersesat’ dalam rutinitas sehari-hari.

Minggu, 05 November 2017

Jejak Tasawuf di Bumi Nusantara


Judul      : Tasawuf Nusantara, Ragkaian Mutiara Sufi Terkemuka
Penulis    : Dr. Hj. Sri Mulyati, M.A,
Penerbit  : Kencana, Jakarta
Cetakan  : Mei 2017
Tebal      : 257 halaman
ISBN       : 979-3925-68-297-5
Peresensi : Ahmad Fatoni, Pengajar Bahasa Arab Universitas  Muhammadiyah Malang

TEMA tentang tasawuf memiliki daya tarik tersendiri untuk dikaji. Sejak masuknya Islam di Nusantara, unsur tasawuf telah mewarnai corak keberagamaan masyarakat. Bahkan, hingga kini pun nuansa tasawuf merupakan bagian yang tak terpisahkan dari praktik keagamaan muslim Indonesia.
Buku ini memperlihatkan betapa gerakan tasawuf berhasil memikat hati masyarakat luas seiring proses islamisasi Nusantara. Fakta yang tak terbantahkan, penyebaran Islam yang berkembang secara spektakuler di negara-negara Asia Tenggara memang tidak lepas dari peran tokoh-tokoh tasawuf. Hal itu disebabkan oleh sikap kaum sufi yang lebih kompromis dan penuh kasih sayang.
Dengan merujuk pada kitab-kitab tasawuf klasik dan penelitian penulis sendiri, buku setebal 257 ini banyak membahas perkembangan tasawuf yang dibawa oleh beberapa tokoh ke Indonesia. Sri Mulyati di sini mengangkat tokoh-tokoh tasawuf yang merupakan perwakilan tokoh pulau-pulau terbesar di Tanah Air.
Pulau Sumatera tampak cukup banyak melahirkan ulama tasawuf yang diwakili oleh Hamzah Fansuri, Nuruddin Ar-Raniri, Abd. al-Shamad al-Palimbani, Ismail al-Minangkabawi, dan Abd. Al-Wahhab Rokan. Sementara dari Kalimantan diwakili Muhammad Nafis al-Banjari dan Syekh Khatib Sambas. Adapun dari Indonesia Timur, tokoh yang dibahas adalah syekh Muhammad Yusuf al-Makassari. Syekh Abd. al-Kariem dari Banten dan K.H. Romli Tamim dari Jombang mewakili tokoh dari Pulau Jawa. Ada pula Daud al-Fatani, satu-satunya takoh tasawuf dari Patani di wilayah Thailand (sekarang).
Secara garis besar buku ini dirangkum menjadi dua bagian. Pertama, mengurai “Tasawuf dan Penyebarannya di Indonesia”. Bagian ini membahas ketokohan dan kiprah para Wali Songo dan Syekh Siti Jenar. Kedua, mengupas “Tasawuf Nusantara Abad XVI Hingga Abad XIX dan XXI”. Pada bagian ini mengungkap peran keagamaan para tokoh-tokoh tasawuf.
Sri Mulyati coba mengaitkan para tokoh tasawuf dengan tarekat yang mereka praktikkan, yang sebagian besar bercorak tasawuf akhlaqi, meskipun ada pula yang bernuansa falsafi. Tarekat yang mereka amalkan pun beragam, mulai dari Tarekat Naqsyabandiyyah, Tarekat Sammaniyyah, Tarekat Syattariyyah, dan Tarekat Naqsyabandiyyah Khalidiyyah.
Akan tetapi, penulis rupanya belum bisa memastikan apakah para Wali Songo itu menganut tarekat tertentu. Umumnya orang mengenal tokoh-tokoh Wali Songo sebagai pribadi yang sangat taat beribadah. Hanya sedikit informasi tentang Sunan Gunung Jati yang dikabarkan sebagai penganut Tarekat Syattariyyah (hal.3).
Pengetahuan umat Islam Indonesia tentang peran tokoh-tokoh tasawuf Nusantara justru sering didapatkan melalui cerita tutur atau tradisi lisan, walaupun ada juga sebagian yang ditulis dalam Babad Tanah Jawi. Banyak kisah-kisah tentang mereka mengandung unsur mitos, namun sebagian ada pula yang dapat dibuktikan.
Yang jelas, buku ini ingin membuktikan bahwa tasawuf telah mulai berperan dalam penyebaran Islam sejak abad XII M. Peran tasawuf kian meningkat pada akhir abad XIII M dan sesudahnya, bersamaan munculnya kerajaan Islam pesisir seperti Pereulak, Samudra Pasai, Malaka, Demak, Ternate, Aceh Darussalam, Banten, Gowa, Palembang, Johor Riau dan lain-lain. Dengan demikian, dakwah Wali Songo mempunyai andil yang besar dalam menyebarkan ajaran tasawuf di Nusantara.
Bahkan di belahan bumi Islam yang lain, abad XII M ditandai dengan dominasi ajaran tasawuf lewat pengaruh pemikiran Islam al-Ghazali (w. 111 M) yang berhasil mengintegrasikan tasawuf ke dalam pemikiran keagamaan madzab Sunnah wal Jamaah. Hal ini juga berlaku di Indonesia, sehingga corak tasawuf yang berkembang di negeri ini lebih cenderung mengikuti tasawuf ala al-Ghazali, walaupun tidak menutup kemungkinan berkembang tasawuf dengan corak warna yang lain.
Penulis buku ini menyudahi pembahasannya dengan menghadirkan empat tokoh dari Tarekat Naqsyabanniyyah dari wilayah yang berbeda di Tanah Air, dan juga berlainan masanya yakni dari masa pendirinya Syekh Ahmad Khatib Sambas hingga penerus beliau saat ini.
Kajian Tasawuf Nusantara ini setidaknya menjadi gambaran umum tentang jejak tasawuf dan tokohnya sebagai langkah awal untuk kajian lebih mendalam di masa yang akan datang. Mengingat referensi yang mengulas perkembangan tasawuf di bumi Nusantara bisa dibilang masih jarang, maka kehadiran buku ini sangat relewan sebagai upaya memerkaya wawasan pembaca, khususnya peminat kajian tasawuf, tentang dinamika gerakan tasawuf di negeri ini sejak zaman Wali Songo hingga abad kita sekarang.

(Resensi buku ini dimuat di harian Bhirawa, ediai Jumat 3 Novemver 2017).
http://harianbhirawa.com/2017/11/jejak-tasawuf-di-bumi-nusantara/